KABARRAFFLESIA.com – Spanduk bertuliskan ‘Kami Idak Ndak Pantai Kami Dirusak’ terpasang di Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang. Pemasangan spanduk ini merupakan bentuk protes Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ikatan Masyarakat Bengkulu Asli (Ikambas) yang bermarkas di sekitaran Lempuing.

Sebelumnya, Ikambas mendatangi Kantor BKSDA Provinsi Bengkulu. Mereka mengantarkan surat protes atas eksploitasi TWA Pantai Panjang oleh pihak swasta.

Dari BKSDA, Ikambas kemudian melakukan hearing ke Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bengkulu. Di sana, mereka disambut langsung oleh Anggota DPRD Kota Bengkulu Ariyono Gumay.

“Kami ingin mempertanyakan apakah pengelolaan TWA ini sudah ada izin atau belum,” kata Ketua Ikambas, Idramsyah, Selasa (30/6).

Menurut pengakuan Ariyono Gumay, kata Idramsyah, penebangan pohon-pohon cemara itu sudah mendapatkan izin dari BKSDA. Namun, ia tidak melihat secara tertulis surat izin tersebut.

“Kata Ariyono Gumay ada izinnya, tapi kami belum lihat. Kalau memang ada, harusnya mereka pasang plank, izinnya nomor berapa,” ungkap Idram.

Idram menilai, penebangan pohon-pohon cemara itu sangat mengkhawatirkan. Sebab, ekosistem yang ada di sana akan terganggu.

“Dulu, ada warga yang ambil ranting aja ditahan oleh BKSDA. Sekarang kok boleh melakukan penebangan pohon-pohon,” kata dia.

Sementara itu, salah seorang Kasi di BKSDA Bengkulu yang bertugas menerima rombongan Ikambas enggan memberikan keterangan. “Harus satu pintu mas,” singkatnya.

Serupa, Ariyono Gumay juga enggan diwawancarai awak media. Usai hearing, ia kemudian mengajak rombongan Ikambas makan siang.

“Nanti saja wawancaranya,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here