Kimin Tanoto yang ditunjuk sebagai Dewan Komisaris Gunung Raja Paksi (GRP) pada 2019 mampu mendorong pertumbuhan eksponensial yang dialami perusahaan selama beberapa waktu terakhir.  GRP berhasil mengokohkan posisinya sebagai pemain tangguh di industri baja dan mampu berkembang pesat baik di pasar dalam negeri maupun internasional.

Hal ini cukup menarik perhatian, GRP bisa menjadi salah satu perusahaan baja terbesar dan terintegrasi secara vertikal di Asia Tenggara. Di bawah kepemimpinan Kimin, jajaran manajemen dan tim operasional kelas dunia, GRP yang semula merupakan perusahaan keluarga mengalami transformasi luar biasa sebagai perusahaan yang dikelola secara profesional.

Seiring dengan perkembangannya, organisasi di dalam tubuh GRP dituntut untuk beradaptasi dengan segudang rintangan yang cukup menantang, terutama bisnis lainnya di sektor baja dan semen. Sifat bisnis membutuhkan pengeluaran modal yang tinggi dengan periode pengembalian investasi yang lebih panjang.

Artinya, dibutuhkan perencanaan strategis jangka panjang dan penilaian tren ekonomi makro untuk mendukung pertumbuhan industri infrastruktur dan bahan bangunan.

Tantangan dan Persaingan di Industri Baja

Sebagai salah satu produsen baja terbesar di Indonesia yang memiliki basis pelanggan global di lebih dari 40 negara, GRP senantiasa menunjuk talenta terbaik demi memastikan semuanya dapat dikelola dengan baik.

Terlebih lagi, ada banyak tekanan yang meningkat dari para pemain regional. Pasar Indonesia yang menjanjikan turut mengundang produsen lainnya berekspansi ke Indonesia dan berupaya mengambil pangsa pasar dengan menurunkan harga mereka. Hal semacam ini merupakan tekanan besar bagi pemain mapan seperti GRP.

Namun, berkat perjalanan panjang GRP dalam membangun identitas bisnis yang kuat dengan jaminan kualitas yang sudah terbukti, GRP berhasil melampaui persaingan dan mempertahankan pangsa pasar untuk sebagian besar segmen konsumen.

Selain berkontribusi besar bagi pertumbuhan GRP, Kimin juga berjasa sebagai penghubung bagi investor asing yang tertarik menanamkan modalnya di pasar Indonesia. Beliau telah menjembatani hubungan mereka dengan para pengusaha-pengusaha di Indonesia. Di samping itu, koneksi bermakna tersebut dapat membantu membawa lebih banyak peluang bagi GRP dalam jangka panjang, seperti berdagang dengan pemain baja global papan atas dari China.

Visi Menuju Digitalisasi

Di tengah-tengah tantangan global akibat pandemi, permintaan atas baja diprediksi belum akan melambat dalam waktu dekat ini. Namun, untuk bisa meraih momentum tepat untuk tumbuh, sangat penting bagi industri baja untuk melakukan beberapa transformasi besar.

Kimin Tanoto melihat bahwa transformasi digital adalah cara strategis untuk meningkatkan kualitas produksi, mendongkrak kembali semangat bisnis dan kualitas pabrik baja yang lebih baik lagi di Indonesia. Dengan memusatkan ketangkasan dalam gaya bisnisnya, GRP mampu mengadakan upaya transformasi digital sebagai prioritas utama.

Digitalisasi merupakan proses terpenting yang akan mempengaruhi seluruh operasional dan bidang pembuatan. Untuk dapat memahami dan memberikan keinginan pasar, industri perlu menyelaraskan peningkatan produksi dan inovasi pelayanan yang terkait dengan bisnis, dan digitalisasi bisa menjadi kunci bagi evolusi industri ini.

Pabrik baja yang terdigitalisasi akan berisi aneka komponen yang bekerja sama untuk menciptakan potensi maksimal. Digitalisasi industri baja mengarah pada transformasi terkait fungsi bisnis, model bisnis, interaksi, dan juga komunikasi.

Secara spesifik untuk bidang baja, hal ini bertepatan dengan penemuan area produksi, elektrifikasi dalam proses industri, perkembangan teknologi transportasi, dan berbagai hal lainnya yang menguatkan nilai baja. (CP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here