Oleh : Donny Osmond, S.Sos

Berbagai upaya sudah dan tengah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mewujudkan tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Anggaran yang sangat besar pun sudah dihabiskan untuk membangun infrastruktur, sarana dan prasarana. Akan tetapi, proses pembangunan justru semakin memupuk sikap individualisme, materialisme, dan kesenjangan sosial yang semakin membahayakan.

Masyarakat adil dan makmur dalam artian yang sesungguhnya belum juga dapat tercipta. Ketidakadilan dalam masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi semakin terasa. Fenomena ini sudah barang tentu juga terjadi, dan dirasakan sebagian besar warga di kota Bengkulu.

Apalagi ditengah pandemi covid-19 yang melanda dan belum juga ada tanda-tanda akan berakhir hingga saat ini. Perubahan tatanan kehidupan sehari-hari membuat persoalan yang dialami semakin kompleks. Aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi terpaksa banyak terhenti.

Laju perekonomian kota Bengkulu yang sebelumnya tumbuh, menjadi tertahan. Perlambatan ekonomi ini, tentu saja berdampak terhadap meningkatnya angka pengganguran dan kemiskinan secara kuantitas. Kontraksi ekonomi yang dialami tidak dapat dibiarkan begitu saja, tanpa dicarikan jalan keluar.

Efek samping dari pandemi harus segera diminimalisir, agar tidak melahirkan masalah sosial yang baru. Berangkat dari kondisi diatas, pemerintah kota menjadikan peningkatan ekonomi masyarakat menjadi prioritas program pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) sejak setahun yang lalu. Realitas sosial yang terjadi saat ini, membutuhkan penanganan dan solusi yang lebih kongkrit.

Peran serta masyarakat menjadi kunci berhasil tidaknya program pemerintah. Berpartisipasi, peduli, sebagai bagian dari anak bangsa. Ikut mengawal, menjaga, dan membantu pemerintah dalam menumbuhkembangkan usaha ekonomi dengan memberdayakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia dilingkungan sekitar.

Dengan menjalin kerjasama ke berbagai pihak, agar terbuka dan tersedia lapangan kerja baru sebagai skala program prioritas. Menumbuhkembangkan ekonomi kreatif, melestarikan seni dan budaya. Berusaha dengan penuh komitmen, dedikasi dan tanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan secara bersama. Bersinergi melakukan pembinaan pembinaan dengan membentuk organisasi kerja.

Didirikan sebagai kendaraan sosial, diharapkan dapat memberikan manfaat, minimal bagi anggotanya. Wadah berhimpun bagi warga untuk menjalin silaturahmi, mempererat persatuan, menghimpun potensi, memperkokoh tali persaudaraan dan mempertebal rasa kekeluargaan.

Sebagai alat perjuangan, hulubalang bersifat kekeluargaan, gotong royong, dan mengedepankan asas musyawarah mufakat. Hulubalang disematkan sebagai nama organisasi sosial kemasyarakatan yang ingin melakukan bimbingan diri individu, sebagai objek pemberdayaan dan memberikan motivasi agar mampu mengaktualisasikan potensi diri.

Didirikan pada awal bulan Juni yang lalu, di kota Bengkulu yang dihuni dari berbagai etnis. Hulubalang hadir sebagai organisasi penengah, penjaga, dan pendingin konflik. Sebagai perekat berbagai suku, tidak terjebak pada pemahaman kedaerahan yang sempit.

Organisasi Hulubalang mencoba mengambil peran dalam membina kesadaran tentang lingkungan sosial di sekitar. Memberikan perlindungan pada hak azasi manusia yang merdeka, keadilan dari beberapa aspek, khususnya dalam bidang ekonomi.

Menawarkan solusi alternatif, untuk menjebol sulitnya ketersediaan lapangan kerja. Memikirkan jalan keluar dari ketimpangan struktural, memandirikan masyarakat secara lebih kongkrit. Menjadi kebutuhan krusial penggerak ekonomi bagi sebagian masyarakat. Penggerak ekonomi, mengurangi pengganguran, dan menurunkan angka kemiskinan.

Dengan problematika yang selalu mengiringi dan kompleksitas, persoalan yang tidak akan pernah selesai. Proses pemberdayaan tepat pada sasaran tidaklah mudah dilakukan Poses pemberdayaan tepat sasaran ini, tidaklah mudah dilakukan.

Apalagi persoalan pemberdayaan sangat kompleksitas, dengan problematika yang akan senantiasa selalu mengiringinya. Semua terpulang pada semangat, kemauan, kemampuan dan kepedulian seluruh komponen dalam mewujudkan cita-cita mulia ini.

Berusaha sesuai dengan tugas, fungsi dan kapasitas masing-masing, yang di dalamnya sarat dengan kendala, hambatan, sekaligus peluang yang ada. Sebuah idealisme yang penuh harapan dan cita-cita mulia. Meskipun diri kita sendiri, termasuk dalam golongan yang berada di dalam kemiskinan.

Sudahkah kita berbuat terhadap masalah yang terjadi secara struktural disekitar kita? Atau kita akan dicatat sejarah sebagai orang yang ikut melakukan pembiaran.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here